Tips dan Cara Memecat Karyawan Dengan Baik, Sopan, Serta Adil

Advertisement
Tips dan Cara Memecat Karyawan Dengan Baik, Sopan, Serta Adil – Seorang pengusaha tentu sangat membutuhkan tenaga kerja yang handal dan dapat dipercaya, hal ini sudah wajar dan bahkan para pengusaha rela membayar dengan gaji di atas rata-rata untuk mendapatkan karyawan dengan kemampuan tinggi dan kepribadian yang baik.

Tapi kenyataan di lapangan, tidak semua karyawan memiliki apa yang diharapkan oleh pengusaha. Akhirnya pengusaha berpikir “aku harus menyingkirkan karyawan tersebut”.

Dengan segala pertimbangan yang matang, pengusaha memang sudah sewajarnya memecat karyawan dengan kinerja yang buruk. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan perkembangan bisnis agar sesuai dengan yang direncanakan.

Tapi ingat, tidak semerta-merta seorang pengusaha dapat memecat karyawannya begitu saja, ada etikanya di sini. Kalau kamu juga seorang wirausahawan, sebaiknya jangan memecat karyawan karena masalah pribadi, atau karena hal yang tidak ada kaitannya dengan masalah pekerjaan. Hal ini bisa menimbulkan bentrok batin untuk para karyawan lainnya.

Tentu saja karyawan yang lain akan berpikir “wah, jangan-jangan saya juga akan dipecat karena hal yang tidak professional gitu?”, kalau sudah begini, bukannya akan maksimal tapi justru akan semakin runyam. Namun sebaliknya, ketika kamu memecat karyawan dengan cara yang baik, bukan tidak mungkin karyawan yang lainnya akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya.

Lalu, seperti apakah cara memecat karyawan dengan baik, sopan, dan adil itu? Caranya mudah banget, enggak harus perusahaan besar yang bisa melakukannya, UKM pun bisa menerapkan cara-cara ini. Berikut cara-cara yang bisa kamu coba:

Sebelumnya, baca juga: Cara merekrut karyawan yang berkualitas tinggi.

Tips dan Cara Memecat Karyawan Dengan Baik, Sopan, Serta Adil

Buat Standar dan Penilaian Kinerja
Pertama sekali yang perlu kamu lakukan adalah dengan membuat standar kerja, isinya tentu terkait dengan kinerja yang seperti apa yang kamu inginkan. Buat sejelas mungkin dan sosialisasikan kepada semua karyawan, di sini ada baiknya jika kamu transparan terkait standar kerja tersebut sehingga tidak hanya kamu yang bisa menilai kinerja seorang karyawan.

Setelah ada standar kerja, maka kamu dengan mudah bisa menilainya. Setidaknya buat 4 kategori nilai, 1. Baik 2. Perlu Pembinaan 3. Surat Peringatan dan 4. Harus pergi. Dalam menilai kinerja pasti ada banyak aspek, setiap aspek tersebut harus menjadi komponen penilaian. Misalkan, dalam menilai kinerja kamu punya 5 aspek diantaranya:kemampuan teknik,  ketepatwaktuan, perilaku dan kepribadian, kemampuan analisis dan pemecahan masalah, serta komunikasi dan mobilitas.

Jika dari 5 aspek tersebut masing-masing memiliki nilai total 10, maka nilai total dari kelima aspek tersebut adalah sebesar 50. Nah, di sini terserah kamu bagaimana menentukan kategori nilainya, misalkan, karyawan dengan nilai minimal 40 bisa dikatakan berkinerja baik, 30-40 perlu pembinaan, 20-19 dikasih surat peringatan, dan di bawah 20 harus pergi.
Advertisement


Lakukan Komunikasi Sedini Mungkin
Pada dasarnya ketika seorang karyawan yang berkinerja buruk memang sudah sewajarnya untuk dipersilahkan pergi, bahasa kasarnya ya dipecat. Tapi, banyak karyawan berkinerja buruk yang tak sadar kalau dirinya memiliki kinerja yang buruk. Dari sini makanya kita perlu komunikasi yang intens dengan mereka agar tidak ada salah paham. Karena itulah, transparansi dalam penilaian kinerja itu sebenarnya sangat penting.

Tapi kita harus paham juga, kasian kalau karyawan yang kinerjanya buruk harus diperlihatkan ke karyawan lain. Di sinilah letak keharusan untuk komunikasi kepada mereka yang kinerjakan tidak perlu diperlihatkan.

Ketika melakukan komunikasi, jangan lakukan secara membabi buta, apalagi sampai menghina dan menyinggung perasaannya. Beri saja mereka penjelasan yang bisa mereka pahami, perlihatkan pula hasil penilaian kinerja yang sebelumnya telah kamu lakukan. Dalam komunikasi ini, seolah-olah kamu memberikan peringatan kepada mereka agar meningkatkan kinerjanya, saya yakin karyawan yang baik pasti akan berusaha meningkatkan kinerjanya setelah melakukan komunikasi ini dengan kamu.

Ciptakan Kewajaran Dalam Memecat Karyawan
Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, untuk memecat karyawan perlu menciptakan kewajaran. kewajaran bukan berarti harus membiasakan untuk memecat karyawan, tidak! Tapi maksudnya adalah biarkan karyawan lain merasa bahwa pemecatan terhadap seorang karyawan itu wajar dilakukan.

Jika kamu memecat karyawan yang buruk, tentu itu wajar, jika kamu memecatkaryawan yang berkali-kali membuat kerugian tentu itu juga wajar. Dengan begitu, karyawan lain paham bahwa apa yang kamu lakukan itu memang sudah seharusnya dilakukan. Ini harus kamu lakukan agar karyawan lain tetap nyaman bekerja, dan tidak terganggu dengan pemecatan yang kamu lakukan.

Dengan standar kerja yang transparan, penilaian kinerja yang baik dan adil, serta pembinaan yang konsisten, saya kira kamu sudah bisa menciptakan system pemecatan karyawan dengan baik, dan karyawan lainnya pun pasti bisa memakluminya. Dan jangan lupakan pulaa, setelah kamu memecat karyawan, beri dia pesangon dan lunasi apa-apa saja yang perlu dilunasi, tentu ini akan memperlihatkan suatu sikap profesionalitas yang baik.

Selanjutnya: Cara meningkatkan motivasi karyawan agar bekerja lebih maksimal.
----
Oke ya, itu saja tips dan cara memecat karyawan yang dapat saya share di sini kepada kalian. Semoga ulasan di atas bermanfaat dan dapat memaksimalkan SDM yang kalian miliki. Salam sukses.
Advertisement
Previous
Next Post »

Sebelum Anda memberikan komentar dan tanggapan atas artikel di atas, baca dan pahami aturan tanggapan kami pada laman TOS. Setiap komentar yang tidak sesuai dengan aturan tanggapan tidak akan di publikasikan.
EmoticonEmoticon